Al-Imam Malik Bin Anas (93-179 H)

Beliau adalah al-Imam Abu Ab­dillah Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amr bin Harits bin Ghaiman bin Khutsail bin Amr bin Harits Dzu Ashbah bin Auf bin Ma­lik bin Zaid bin Syaddad bin Zur’ah Himyar al-Ashghar al-Himyari ke­mudian al-Ashbahi al-Madani.

Ibu beliau adalah Aliyah bintu Syarik al-Azdiyyah.

Kelahiran Beliau

Beliau dilahirkan pada tahun 93 H di Madinah.

Sifat-sifat Beliau

Beliau rohimahullah berwajah tampan, berkulit putih kemerah-merahan, berperawakan tinggi besar, ber­jenggot lebat, pakaiannya selalu bersih, suka berpakaian berwarna putih, jika memakai imamah seba­gian diletakkan di bawah dagunya dan ujungnya diuraikan di antara kedua pundaknya.

Beliau selalu memakai wangi-­wangian dari misik dan yang lain­nya.

Beliau masyhur dengan kecer­dasan, keshalihan, keluhuran ji­wanya, dan kemuliaan akhlaqnya

Pertumbuhan dan Guru-­guru Beliau

Beliau rohimahullah menuntut ilmu ke­tika masih berusia belasan tahun. Ketika berusia 21 tahun beliau su­dah mencapai tingkatan berfatwa dan bermajelis. Banyak ulama yang mengambil ilmu riwayat dari beliau ketika beliau masih begitu muda.

Banyak para penuntut ilmu dari segala penjuru datang kepada beliau pada akhir kekhalifahan Abu Ja’far al-Manshur dan bertambah banyak pada kekhilafahan Harun ar-Rasyid hingga beliau wafat.

Beliau mengambil ilmu dari Nafi’ Maula Ibnu Umar, Sa’id al-­Maqburi, Amir bin Abdullah bin Zubair, Ibnul Munkadir, az-Zuhri, Abdullah bin Dinar, dan banyak lagi dari selain mereka yang jum­lahnya melebihi 1400 orang.

Murid-murid Beliau

Di antara guru-guru beliau yang mengambil riwayat dari beliau adalah paman beliau Abu Su­hail bin Abu Amir, Yahya bin Abu Katsir, az-Zuhri, Yahya bin Sa’id, Ya­zid bin Had, Zaid bin Abu Unaisah, Umar bin Muhammad bin Zaid, dan selain mereka.

Di antara murid-murid beliau adalah Ma’mar bin Rasyid, Ibnu Juraij, Abu Hanifah, asy-Syafi, Amr bin Harits, al-Auza’i, Syu’bah, Sufyan ats-Tsauri, Abdullah bin Mubarak, Abdul Aziz ad-Darawardi, Ibnu Abi Zinad, Ibnu Ulayyah, Ya­hya bin Abu Zaidah, Abu Ishaq al-­Fazari, Muhammad bin Hasan asy­-Syaibani, Abdurrahman bin Qasim, Abdurrahman bin Mahdi, Ma’n bin Isa, Abdullah bin Wahb, Musa bin Thariq, Nu’man bin Abdussalam, Waki’ bin Jarrah, Walid bin Muslim, Yahya al-Qaththan, dan selain me­reka.

Murid beliau yang terakhir meninggal adalah perawi kitab al-­Muwaththa’ Abu Hudzafah Ahmad bin Isma’i1 as-Sahmi, dia hidup 80 tahun sepeninggal al-Imam Malik.

Hadits yang Mengisyaratkan Tentang Keutamaan Beliau:

Dari Abu Hurairah Rodhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam” bersabda: “Sungguh manusia akan menempuh perjalanan jauh untuk menuntut ilmu, maka mereka tidak mendapati seorang alim pun yang lebih berilmu dibandingkan dengan ulama Ma­dinah.” (Diriwayatkan oleh Nasa’i dalam Sunan Kubra 2/489 dan Ibnu Abi Hatim dalam Taqdimatul Jarh wat Ta’dil hal. 11-12 dan berkata adz-Dzahabi dalam Siyar 8/56: Ha­dits ini sanadnya bersih dan matan­nya gharib)

Abdurrazaq bin Hammam ber­kata:”Kami memandang bahwa dia adalah Malik bin Anas (yaitu dalam sabda Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam: … mereka ti­dak mendapati seorang alim yang lebih berilmu dibandingkan dengan ulama Madinah.’

Sufyan bin Uyainah berkata: “Dulu aku mengatakan dia adalah Sa’id bin Musayyib kemudian seka­rang aku mengatakan bahwa dia adalah Malik yang dia tidak ada bandingannya di Madinah.”

Abul Mughirah al-Makhzumi menyebutkan bahwa makna ha­dits di atas adalah selama kaum muslimin menuntut ilmu mereka tidak mendapati orang yang lebih berilmu daripada seorang ulama di Madinah.

Adz-Dzahabi berkata: “Tidak ada di Madinah seorang ulama pun setelah tabi’in yang menyeru­pai Malik dalam keilmuan, fiqh, ke­agungan, dan hafalan.”

Fiqh dan Keilmuan Beliau

Al-lmam asy-Syafi’i berkata: “Seandainya tidak ada Malik dan Sufyan maka sungguh akan hilanglah ilmu Hijaz.”

Al-Imam asy-Syafi’i juga ber­kata: “Muhammad bin Hasan -sa­habat Abu Hanifah- berkata kepa­daku:”Siapakah yang lebih berilmu tentang al-Qur’an, sahabat kami (yaitu Abu Hanifah) atau sahabat kalian (yaitu Malik)?’ Aku berkata: ‘Secara adil ?’ Dia berkata: ‘Ya: Aku berkata: ‘Aku bertanya kepadamu dengan nama Alloh siapakah yang lebih berilmu tentang al-Qur’an, sahabat kami atau sahabat kalian?’ Dia berkata: ‘Sahabat kalian (yaitu Malik): Aku berkata: ‘Siapakah yang lebih berilmu tentang Sunnah, sahabat kami atau sahabat kalian?’ Dia berkata: ‘Sahabat ka­lian (yaitu Malik): Aku berkata: ‘Aku bertanya kepadamu dengan nama Alloh siapakah yang lebih berilmu tentang perkataan para sahabat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam dan perkataan para ulama terdahulu, sahabat kami atau sahabat kalian?’ Dia berkata: ‘Sahabat kalian (yaitu Malik):” Asy­-Syafi’i berkata: “Maka aku berkata: ‘Tidak tersisa sekarang kecuali qi­yas, sedangkan qiyas adalah analo­gi pada pokok-pokok ini, orang yang tidak tahu pokok-pokok ini, pada apa dia mengqiyaskan sesu­atu?’”.

Abu Hatim ar-Razi berkata: “Malik bin Anas adalah seorang yang tsiqah, imam penduduk Hi­jaz, dia adalah murid Zuhri yang terdepan. Jika penduduk Hijaz menyelisihi Malik, maka yang benar adalah Malik.”

Al-lmam Ahmad bin Hanbal berkata: “Malik bin Anas adalah yang paling kokoh dari manusia dalam hadits:’

Kehati-Hatian Beliau Dalam Berfatwa

Abu Mush’ab berkata: “Aku mendengar Malik berkata: “Aku ti­dak berfatwa hingga 70 orang ber­saksi bahwa aku layak berfatwa:”

Abdurrahman bin Mahdi ber­kata: “Kami berada di sisi al-Imam Malik bin Anas, tiba-tiba datang seseorang kepadanya seraya ber­kata: ‘Aku datang kepadamu dari jarak 6 bulan perjalanan. Penduduk negeriku menugaskan kepadaku agar aku menanyakan kepadamu suatu permasalahan.’ Al-Imam Malik berkata: ‘Tanyakan­lah!’ Maka orang tersebut bertanya kepadanya suatu permasalahan. Al-Imam Malik menjawab: ‘Saya tidak bisa menjawabnya.’ Orang tersebut terhenyak, sepertinya dia membayangkan bahwa dia telah datang kepada seseorang yang tahu segala sesuatu, orang terse­but berkata: ‘Lalu apa yang akan aku katakan kepada penduduk negeriku jika aku pulang kepada mereka?’ Al-Imam Malik berkata: ‘Katakan kepada mereka: Malik ti­dak bisa menjawab:”

Khalid bin Khidasy berkata: “Aku datang kepada Malik dengan membawa 40 masalah, tidaklah dia menjawabnya kecuali 5 masalah.”

Perhatian Beliau Kepada Kitabullah

Khalid al-Aili berkata: “Aku ti­dak pernah melihat seorang yang lebih besar perhatiannya kepada Kitabullah dibandingkan Malik bin Anas.”

Abdullah bin Wahb berkata: “Aku bertanya kepada saudara perempuan Malik bin Anas: ‘Apa­kah kesibukan Malik di rumahnya?’ Dia menjawab: ‘Mushaf dan tila­wah.’”

Tentang Akal dan Adab Be­liau

Abdurrahman bin Mahdi ber­kata: “Aku tidak pernah melihat ahli hadits yang lebih bagus akal­nya dibandingkan Malik bin Anas.”
Abu Mush’ab berkata: “Aku ti­dak pernah sekalipun mendengar Malik menyuruh orang-orang berdiri, dia hanya berkata: ‘Kalau kalian menghendaki, kembalilah.’”
Abdullah bin Wahb berkata: “Yang kami nukil dari adab Malik lebih banyak daripada yang kami pelajari dari ilmunya.”

Ittiba’ Beliau Kepada Sunnah

Abdullah bin Wahb berkata: “Aku mendengar Malik ditanya oleh seseorang tentang masalah menyela-nyela jari-jari kedua kaki ketika berwudhu, maka dia ber­kata: ‘Hal itu tidak disyari’atkan atas manusia.’” Abdullah bin Wahb berkata: “Aku biarkan dia sampai ketika sudah sepi dari manusia aku katakan kepadanya:’Kami memiliki hadits tentang itu.’ Maka dia ber­kata: ‘Apa itu?’ Aku berkata: ‘Telah mengkhabarkan kepada kami Laits bin Sa’d, Ibnu Lahi’ah, dan Amr bin Harits dari Yazid bin Amr al-Ma’afiri dari Abu Abdirrahman al-Hubulli dari Mustaurid bin Sy­addad al-Qurasyi dia berkata: ‘Aku melihat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam menggosok sela-sela jari-jari kakinya dengan kelingkingnya.’ Malik berkata: ‘Ha­dits ini hasan, aku belum pernah mendengarnya kecuali saat ini.’” Abdullah bin Wahb berkata: “Ke­mudian sesudah itu aku men­dengar Malik ditanya tentang hal tersebut dan dia memerintahkan agar menyela-nyela jari-jari kaki ketika berwudhu.”

Di Antara Perkataan­-perkataan Beliau

Al-Imam Malik berkata: “Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang: (1) Orang dungu yang menampakkan kedunguannya -meskipun dia paling banyak ri­wayatnya-, (2) Ahli bid’ah yang mengajak kepada hawa nafsu­nya, (3) Orang yang biasa berdus­ta ketika bicara dengan manusia -meskipun aku tidak menuduh dia berdusta dalam hadits-, (4) Orang shalih yang banyak beribadah jika dia tidak hafal hadits yang dia riwayatkan.”

Beliau berkata: “Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam dan para khalifah sesudah beliau telah membuat sunnah-sunnah, mengambil sunnah-sunnah terse­but adalah ittiba’ kepada Kitabul­lah, penyempurna ketaatan kepada Alloh, dan kekuatan di atas agama Alloh. Tidak boleh bagi seorang pun mengubah dan mengganti sunnah-sunnah tersebut dan melihat kepada sesuatu yang menyelisihinya. Orang yang mengambil sunnah-sunnah tersebut maka dialah orang yang mendapatkan petunjuk. Orang yang meminta pertolongan dengannya maka dia akan tertolong. Dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia telah mengikuti selain jalan orang-­orang mu’min, Alloh memaling­kannya sebagaimana dia berpaling dan memasukkannya ke dalam ja­hannam yang merupakan sejelek- jelek tempat kembali.”

Al-Imam asy-Syafi’i berkata: “Adalah al-Imam Malik jika didatangi oleh sebagian ahli bid’ah, dia mengatakan: ‘Adapun aku maka berada di atas kejelasan dari agamaku, adapun kamu maka seorang yang masih ragu, pergilah kepada orang yang ragu sepertimu dan debatlah dia!’”

Ja’far bin Abdullah berkata: “Kami di sisi Malik, tiba-tiba datang seseorang yang berkata: ‘Wahai Abu Abdillah, Alloh bersemayam di atas ‘Arsy, bagaimana istiwa’ itu?’ Tidaklah Malik marah dari sesuatu melebihi marahnya pada pertan­yaan orang tersebut, dia melihat ke tanah dan menohoknya dengan batang kayu yang ada di tangan­nya hingga bercucuran keringat­nya, kemudian’ dia mengangkat kepalanya dan membuang batang kayu tersebut seraya mengatakan: ‘Kaifiyyat dari istiwa’ tidak diketa­hui, istiwa’ bukanlah perkara yang majhul, iman kepada istiwa’ adalah wajib, dan bertanya tentang kai­fiyyatnya adalah bid’ah, dan aku menduga kamu adalah seorang ahli bid’ah. “Maka kemudian orang tersebut dikeluarkan dari majelis.

Cobaan Beliau

Ibnu Jarir berkata: “Malik per­nah dipukul dengan cambuk.” Ke­mudian Ibnu Jarir membawakan sanadnya sampai Marwan ath­-Thathari bahwasanya Abu Ja’far al-Manshur melarang Malik dari menyampaikan hadits: ‘Tidak ada thalaq bagi orang yang dipaksa’, kemudian ada orang yang menye­lundup di majelisnya menanyakan hadits tersebut hingga Malik me­nyampaikannya di depan manusia, maka Abu Ja’far kemudian men­cambuk Malik.”

Muhammad bin Umar berkata: “Sesudah kejadian tersebut Malik semakin naik derajatnya di mata manusia.”

Adz-Dzahabi berkata: “Inilah buah dari ujian yang terpuji, akan mengangkat kedudukan hamba di sisi orang-orang yang beriman.”

Tulisan-tulisan Beliau:

Di antara tulisan-tulisan beliau adalah:al-Muwaththa’ -yang di­katakan oleh al-Imam asy-Syafi’i: Ti­dak ada kitab dalam masalah ilmu yang yang lebih banyak benarnya dibandingkan dengan Muwath­tha’ Malik-, Risalah fil Qadar yang dikirimkan kepada Abdullah bin Wahb, an-Nujum wa Manazilul Qa­mar yang diriwayatkan oleh Sahn­un dari Nafi’dari beliau, Risalah fil Aqdhiyah, Juz dalam Tafsir, Kitabus Sir, Risalah ila Laits fi ljma’ Ahlil Ma­dinah, dan yang lainnya.

Wafat Beliau

Al-Imam Malik wafat di pagi hari 14 Rabi’ul Awwal tahun 179 H di Madinah dalam usia 89 ta’hun. Semoga Allah meridhainya dan menempatkannya dalam keluasan jannah-Nya.

Sumber:Taqdimatul Jarh wat Ta’dil oleh Abi Hatim hal 11-32, dan Siyar A’lam Nubala oleh adz-Dzahabi 8/48-135.

Perihal lataghdhab
Herbal Shop Al-Khair | Mudah, Aman dan Amanah | Segala Kebaikan Obat Ada di Thibbun Nabawi dan Herbal Alami :: FORMAT PEMESANAN LEWAT SMS :: Jenis Produk, Jumlah#Nama#Alamat (RT/RW, Kel/ Kec, Kodepos)#No. HP#Bank KIRIM KE 081210110323. Barokallahu fykum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: