Al-Imam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah (691H-751H)

Beliau adalah al-Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakar bin Ayub ibnu Hariz az-Zar’i ad-Dimasyqi. Populer dengan sebutan Ibnu Qayyim al-Jauziyah, nisbat kepada madrasah yang dibangun oleh Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf bin Abdur Rahman bin Ali bin al-Jauzi, dikarenakan ayahnya adalah salah seorang yang bertanggung jawab pada madrasah tersebut.

Kelahirannya
Beliau Rahimahullah dilahirkan dalam sebuah rumah yang penuh dengan ilmu pengetahuan dan keutamaan pada tanggal 7 Safar tahun 691 H, di desa Zar’i Hauran, yang terletak 55 mil sebelah timur damaskus.


Sifat-sifatnya
Beliau senantiasa berpegang kepada Al-Qur’an dan Hadits yang shahih dan memahami keduanya dengan pemahaman yang paling benar, yaitu sesuai dengan pemahaman para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka setelahnya.

Di dalam berbagai bukunya tercermin sikapnya yang teguh kepada Al-Qur’an, konsisten dalam mempelajarinya, merenungkan ayat-ayatnya, menjelaskan nilai sunnah yang shahih, menyingkap berbagai kemusykilan yang ada dan esensi hadits sebagai penjelasan Al-Qur’an

Guru-gurunya
Ia berguru bidang gramatika Arab kepada Ibnu Abi al-Fatah al-Ba’bi, kepadanya beliau belajar kitab al-Mulkhkhas karya Abi al-Baqa’, lalu al-Kafiyah asy-Syafiyah dan sebagian at-Tashil. Kepada syaikh Majduddin at-Tunisi beliau belajar sebagian kitab al-Muqarrib karya Ibnu Ushfur.

Ia belajar bidang ushul dan fiqih kepada Syaikh Shafiyuddin al-Hindi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syaikh Isma’il bin Muhammad al-Harani. Kepada mereka ia mempelajari kitab ar-Raudhah karya Ibnu Qudamah al-Muqaddasi, al-Ahkam karya al-Aamidi, al-Muhashshil, al-Mahshul, dan al-Arba’in karya ar-Razi, serta al-Muharror karya Ibnu Taimiyah al-Jadd

Ia senantiasa mendampingi (mulazamah) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah semenjak kepulangannya dari Mesir tahun 712 H, sampai wafatnya tahun 727 H.

Murid-muridnya
Diantara murid-muridnya antara lain:
1. Al-Imam al-Hafizh Zainuddin Abu al-Farai Abdur Rahman bin Ahmad bin Rajab al-Baghdadi.
2. Al-hafizh Imaduddin Isma’il bin Umar bin Katsir al-Bashrawi ad-Dimasyqi (Ibnu Katsir)
3. Asy-Syaikh al-Imam al-Hafizh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad Ibnu Ahmad bin Abdul hadi bin Abdul Hamid bin Abdul Hadi bin Yusuf bin Muhammad bin Qudamah al-Muqaddasi al-Jamma’ili as-Shalani
4. Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abdul Qadir bin Muhyiddin Utsman ibnu Abdil Rahman an-Nabalisi al-Hanbali.
5. Ibrahim (anaknya)
6. Syarafuddin Abdillah (anaknya)

Karya-karyanya
Karyanya mencapai 60 lebih dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Sebagian berukuran besar (dalam beberapa jilid) dan sebagian yang lain dalam satu jilid. Kesemuanya adalah karya yang sangat bagus dan bermanfaat di bidangnya.

Dalam bidang fiqih dan Ushul, ia menulis: I’lam al-Muwaqqi’in an-Rabbil ‘Alamiin, ath-Thuruq al-Hukmiah fi as-Siyasah asy-Syar’iyah, Ighatsah al-Lahfan fi Maka’id asy-Syaithan, Tuhfah al-Maudud fi Hikam al-Maulud, Ahkam Ahli adz-Dzimmah dan al-Furusiah.

Dalam bidang hadits dan sejarah hidup Rasulullah, ia menulis: Tahdzib Sunan Abi Daud wa Idhahu ‘Ilaihi wa Musykilatihi, Zad al-Ma’ad fi hadyi Khairil ‘Ibad. Dalam bidang aqidah beliau menulis: Ijtima’u al-Juyusyi al-islamiyah ala Ghazwi al-Mu’atthilah wal Jahmiyah, ash-Shawa’iq al-Mursalah ala al-Jahmiyah wal Mu’atthilah, Syifa’ul Alil fi Masa’ili al-Qadha’i wal Qadari wal Hikmati wat Ta’lil, Hidayah al-Hiyara min al yahudi wan Nashara, Haadi al-Arwah ila Bilad al-Afrah, dan Kitab ar-Ruh.

Dalam bidang akhlak dan tazkiyah, ia menulis Madarij as-Salikin, Iddatus Shobirin wa Dzakhiratus Syakirin, ad-Da’ wa ad-Da’wah, dan al-wabil ash-Shayib min al-Kalim at Thayyib.

Sementara untuk disiplin ilmu yang lain beliau menulis: at-Tibyan fi Aqsami al-Qur’an, Bada’i al-Fawa’id, al-Fawa’id, Jala’ul Afham fis-Shalah was Salam ala Khairul Anam, Raudhah al-Muhibbin, Thariqul Hijratain wa Bab as-Sa’adatain, Miftah ad-Dar as-Sa’adah, dan kitab yang lain yang memberi kontribusi sangat besar dalam khazanah keilmuan Islam.

Di antara perkataan-­perkataannya
Ia menafsirkan jalan yang lurus seraya mengatakan, “Itulah jalan Allah yang telah dibangun bagi para hamba-Nya melalui lisan Rasul-Nya sebagai media hamba untuk sampai kepada-Nya, yaitu dengan memberikan ‘ubudiyah hanya kepada-Nya dan ketaatan kepada Rasul-Nya. Karenanya tidak boleh menyekutukan-Nya dengan seseorang dalam ubudiyah dan keta’atan ini. Itulah esensi dan kandungan syahadat “tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”

Wafatnya
Beliau wafat pada penghujung waktu Isya’ , malam kamis 23 rajab 751 H. Keesokan harinya ia dishalati di Masjid Jami’ Damaskus, kemudian dishalati lagi di Masjid Jami’ al-Jarrah, di dekat pemakaman di mana ia akan dimakamkan yaitu di Bab ash-Shaghir yang sangat populer hingga sekarang.

Perihal lataghdhab
Herbal Shop Al-Khair | Mudah, Aman dan Amanah | Segala Kebaikan Obat Ada di Thibbun Nabawi dan Herbal Alami :: FORMAT PEMESANAN LEWAT SMS :: Jenis Produk, Jumlah#Nama#Alamat (RT/RW, Kel/ Kec, Kodepos)#No. HP#Bank KIRIM KE 081210110323. Barokallahu fykum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: