Do’a & Dzikir Sebelum Tidur

الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله و على آله وصحابته و من اهتدى بهـداه , أما بعد

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, sehingga Dia-lah yang patut diibadahi. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hinga akhir zaman.

Sesungguhnya seorang muslim memandang tidur sebagai nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya.

Allah berfirman,

yang artinya: “Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya”. (QS. Al-Qoshos 28:73).

Dan Firman Allah Ta’ala,

yang artinya, “Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat” (QS. An-Naba 78:9).

Adab-adab Tidur
Tidur seorang hamba pada waktu malam setelah segala aktivitas yang dilakukannya pada siang hari, akan membantu tubuhnya menjadi segar untuk bisa melakukan aktivitas pada esok hari, juga akan membantu tubuhnya lebih bersemangat untuk melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Maka dengan nikmat yang besar ini hendaknya seorang muslim bersemangat untuk menjaga tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah adab-adab yang berkaitan dengan tidur. Di antara adab tersebut adalah:

1. Tidak mengakhirkan tidur setelah melakukan shalat isya kecuali karena perkara yang penting untuk dilakukan seperti mempelajari ilmu atau menjamu tamu atau untuk melayani keluarga. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Barzah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai tidur sebelum shalat isya dan berbincang-bincang setelahnya.

2. Tidur dengan berwudhu terlebih dahulu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apabila kamu hendak tidur maka berwudhulah sebagaimana wudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi kananmu.” (HR Bukhari dan Muslim).

3. Memulai tidur dengan membaringkan tubuh ke sisi sebelah kanan sebagaimana dalam hadits di atas.

4. Tidak tidur dengan tengkurap, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya itu adalah cara tidur yang dimurkai Allah ‘azza wa jalla”. (HR. Abu Daud dengan sanad yang shahih)

5. Mengumpulkan kedua telapak tangannya. Kemudian ditiup dan dibacakan: surat Al-ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas. Kemudian dengan kedua telapak tangan tadi mengusap tubuh yang dapat dijangkau dimulai dari kepala, wajah dan tubuh bagian depan. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali. (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Mengibaskan tempat tidur dengan ujung sarung atau dengan pakaiannya sebanyak tiga kali. (HR. Bukhari).

7. Membaca doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah, seperti membaca do’a,

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا

“Bismika Allahumma amuutu wa ahyaa (dengan menyebut nama-Mu ya Allah aku mati dan hidup)” (HR. Bukhari dan Muslim).

8. Dianjurkan membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, takbir 33 kali atau 34 kali ketika hendak tidur, sebagaimana sabda beliau kepada Ali bin Abi Thalib dan istrinya ketika mereka hendak tidur, “Maka bacalah tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, dan takbir tiga puluh tiga kali” dan dalam riwayat lain “takbirlah tiga puluh empat kali” (HR Bukhari).

9. Dianjurkan juga membaca ayat kursi, membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah atau membaca surat Ali ‘Imron ayat 190-200 (HR. Bukhari).

10. Apabila tiba-tiba terbangun di tengah malam, maka dianjurkan meminta kepada Allah Ta’ala karena saat itu adalah saat yang mustajab, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah seorang muslim yang tidur dalam keadaan suci dan berdzikir lalu tiba-tiba terbangun di malam hari kemudian mohon kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat kecuali Allah akan mengabulkannya” (HR. Abu Dawud).

11. Ketika bermimpi buruk hendaknya berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk dan dari kejelekan yang dilihat dalam mimpi. (HR. Muslim).

12. Ketika bangun tidur hendaknya membaca doa,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Alhamdulillahil ladzi ahyaana ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur (Segala puji bagi Allah yang telah membangkitkan kami dari mati (tidur) dan hanya kepada-Nya semuanya kembali)” (HR Bukhari).

Demikianlah beberapa adab tidur yang dituntunkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk senantiasa mengamalkannya, mengikuti sunnah Nabi-Nya sehingga tidur kita tidak sekedar rutinitas untuk pemenuhan kebutuhan jasmani, namun juga merupakan kenikmatan yang bernilai ibadah dan membuahkan pahala di sisi Allah.

Agar ibadah diterima di sisi Allah, haruslah terpenuhi dua syarat, yaitu:

1. Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil
Syarat pertama adalah konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illa-llah, karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya untuk Allah dan jauh dari syirik kepadaNya.

2. (Ittiba’)Sesuai dengan tuntunan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Syarat kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajibnya ta’at kepada Rasul, mengikuti syari’atnya dan meninggalkan bid’ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan.

Jika salah satu syarat saja yang terpenuhi, maka amalan ibadah menjadi tertolak. Hadits dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.

Wallahu a’lam

***********

Sumber dari buletin.muslim.or.id dengan sedikit penambahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: